Suara itu…..wuss…wuss..wuss..lalu kenapa tiba-tiba angin
menyibak rambutku? Aku baru sadar, ini sudah terlalu larut untuk tubuh lelahku.
Detak jarum jam membarengi deru kipas angin yang nampaknya tak akan lelah
berputar kecuali jika aliran listriknya kucabut. Atau jika kondisinya sudah
tidak memungkinkan, barangkali sudah terlalu lelah atau terlalu usang karena
saking lamanya dipakai. Ya seperti manusia menurutku, akan lelah jika terus
menerus dituntut. Yang paling penting dilakukan tentu selalu mengaliri daya
untuk tubuh kita agar bisa terus menjalankan hidup.
00:01. Sedikitpun aku belum memejamkan mata. Barangkali
terlalu asyik memandangi cicak yang menempel di atap kosku. Handphone yang
sedari tadi di sampingku tak kunjung berbunyi. Berharap seseorang itu cepat
menghubungiku, tapii……
Prakkkk……prakkk……
Nampak seperti batu memecahkan kaca. Beberapa orang wanita
tak dikenal tiba-tiba saja masuk ke kamarku tanpa komando. Bahkan tanpa
seizinku. Seketika aku tersontak. Antara kaget dan takut. Ingin berteriak, tapi
leherku seperti tercekik. Suaraku hilang. Aku diam tak bergerak. Satu diantara
3 orang tampak mengeluarkan sebuah bungkusan dari plastik. Apa itu? Narkoba?
Atau bom? Pikiranku sudah melayang jauh. Tapi aku tak berani menegur. Kemudian
2 orang lainnya membentuk lingkaran dan duduk di lantai kamarku.
Aku semakin tidak mengerti. Mereka memakai pakaian
hitam-hitam ala preman. Kelihatan keren memang, tapi….mata mereka seakan
menyeruduk kepadaku. Bola matanya seperti mau keluar. Tangan mereka penuh
dengan gelang-gelang imitasi dengan kuku-kuku hitam efek kuteks. Bibir mereka
masing-masing memainkan mimiknya. Ada yang bentuknya seperti corong tuangan
bensin, ada yang menggigit-gigit bibirnya seakan menahan rasa mulesnya, dan ada
pula yang terus komat-kamit sambil terus memandangiku. Aku nanar. Aku mencoba
memberanikan diri membalas tatapan buruk itu. Dalam hatiku “Siapa wanita buruk
ini? Mengapa malam-malam datang ke kamarku? Dan apa bungkusan yang ada di hadapan
wanita itu?”
Lamunanku terhenti ketika tiba-tiba suara laki-laki yang tak
asing terdengar nyaring di telingaku. Aku segera sadar. “ Apa yang kamu lakukan
di luar tengah malam begini? Teman-temanmu sudah tertidur” Ternyata suara Bapak
Kos. Aku pikir ini kesempatan untukku menyuruh Bapak Kos mengusir wanita-wanita
buruk ini. Sebelum menjawab, aku menoleh ke arah wanita-wanita itu. Aku kaget.
“Loh kok mereka tidak ada? Ke mana perginya mereka?” pikirku.
Akhirnya, aku terpaksa berbohong kepada Bapak Kos. “Iya pak,
tadi habis mengerjakan tugas, ini baru mau tidur.” Jawabku. Aku masuk kamar,
kututup dan kukunci pintu daaan…
BERSAMBUNG
#Ciend










.jpg)


