Dia memecahkannya lagi. Kaca ruang musik yang entah sudah
keberapa kalinya dalam semester ini.
“Woi Dinda! Bisa gak sih gak ngelakuin hal-hal bahaya kayak
gini?” seorang pemuda dengan pelipis yang berdarah akibat remahan kaca mengomel
entah pada siapa.
“Woi Dinda! Lu pasti di sana kan? Sembunyi di balik pintu
itu! Iya, kan? Lu takut gue kutuk lagi kan? Keluar sini Lu!” dengan sedikit
terhuyung-huyung ia menghampiri pintu dan perlahan membukanya.
“Nah! Ka— eh?” dia terkejut setelah mendapati ternyata gadis
yang berdiri di sana bukan teman masa kecilnya, Dinda, tapi seorang gadis yang
belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gadis itu tertunduk dengan ekspresi wajah bersalah.
“Ma-maf, Krisna … sebenarnya tadi aku yang memukul bola
kasti itu, bukan Dinda.” gadis itu masih menundukkan wajah. Kemarahan Krisna
yang memuncak kini hilang seperti uap air mendidih.
“E-eh … ti-tidak masalah kok.” Krisna mencoba tersenyum
seramah mungkin sambil menggaruk pipinya.
“Ya ampun! Dahimu? Dahimu berdarah!!!” gadis itu menjadi
khawatir, seolah-olah ia tidak menghiraukan apa yang Krisna katakan tadi.
Buru-buru ia lari ke dalam ruang kesehatan yang kebetulan ada tepat di samping
ruang musik. Dalam hitungan detik, ia sudah kembali dengan sebuah saputangan,
air dalam baskom kecil, perban, dan obat merah.
“Diam! Aku akan mengurus lukamu. Duduk sini!” gadis itu
menggeret Krisna untuk duduk di kursi piano dalam ruang musik kemudian langsung
mengurus lukanya. Krisna terdiam menurut. Tangan lembut sang gadis yang
menyentuh pelipisnya begitu ia nikmati. Suasanya jadi hening. Hanya terdengar
desiran angin yang mengangkut bunga-bunga layu dan helaan nafas tenang dari
keduanya.
“Hoooooiii!!!!” sebuah suara gaduh membuat mereka terkejut.
Hampir saja si gadis melemparkan baskom kecil berisi air yang tengah
digenggamnya.
“Eh?” gadis yang tadi berteriak dengan suara gaduh nampak
bingung. Berkali-kali ia menatap kemudian berpaling pada kaca jendela yang
pecah, Krisna yang terluka pelipisnya, dan seorang gadis lain yang tengah
berdiri bergeming di hadapan Krisna. Ia kemudian berjalan pelan dengan muka
bersungut-sungut ke dalam ruang musik.
“Heeeh~? Gak nyangka kalau ternyata ada orang lain yang
mampu pecahin kaca ini selain aku. Ha ha ha …” ujarnya sambil berjalan ke arah
kaca jendela yang koyak dan tertawa garing.
Pletak!
Sebuah buku tebal berisi rentetan not balok, terbang menuju
dahi Dinda.
“Diindaa!! Eluuuuu!!!” Krisna geram.
“Aw …” Dinda merintih kecil saat sudut buku yang dilempar
Krisna mengenai pelipis kirinya. Sementara di pihak yang bersebrangan, Krisna
masih menggeram.
“Lu apa-apaan sih?! Mau bikin gue gegar otak?” buku itu
kemudian dilempar lagi menuju Krisna. Namun karena target meleset, buku itu
malah mendarat di tulang pipi gadis yang berdiri di hadapan Krisna dan sukses
membuat ia limbung dan terjatuh.
Tanpa komando, Krisna dan Dinda kompak menghampiri gadis
itu.
“Oi? Lu gak papa?” Krisna mencoba membantu gadis itu
bangkit. Syukurlah dia tidak pingsan.
“Gak papa kok. Tenang aja.” Gadis itu tersenyum sembari
mencoba bangkit.
“Ma-maaf.” Dari arah punggung mereka, suara penyesalan
terdengar.
“Ini semua gara-gara lu!” Krisna bangkit dan menyalahkannya.
“Lagian lu yang mulai sih!” bela Dinda.
“Elu tuh yah!”
“Eeeh … udah! Gak papa kok.” Gadis itu melerai dengan
lembut.
“Hmh!” dengan sinis Dinda memalingkan muka kemudian
melanjutkan kalimatnya, “btw, lu siapa?
Kok bisa sih sampe jadi saingan Gue
buat urusan mecahin kaca ruang musik?”
Krisna berang. “Woi! Itu tuh bukan sesuatu yang bisa lu
banggain!”
Gadis itu tersenyum lembut.
“Gue …”
*to be continued
#Ruuni-sama
#Ruuni-sama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar