Kamis, 09 April 2015

Your October Lie part 1

Dia memecahkannya lagi. Kaca ruang musik yang entah sudah keberapa kalinya dalam semester ini.

“Woi Dinda! Bisa gak sih gak ngelakuin hal-hal bahaya kayak gini?” seorang pemuda dengan pelipis yang berdarah akibat remahan kaca mengomel entah pada siapa.

“Woi Dinda! Lu pasti di sana kan? Sembunyi di balik pintu itu! Iya, kan? Lu takut gue kutuk lagi kan? Keluar sini Lu!” dengan sedikit terhuyung-huyung ia menghampiri pintu dan perlahan membukanya.

“Nah! Ka— eh?” dia terkejut setelah mendapati ternyata gadis yang berdiri di sana bukan teman masa kecilnya, Dinda, tapi seorang gadis yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gadis itu tertunduk dengan ekspresi wajah bersalah.

“Ma-maf, Krisna … sebenarnya tadi aku yang memukul bola kasti itu, bukan Dinda.” gadis itu masih menundukkan wajah. Kemarahan Krisna yang memuncak kini hilang seperti uap air mendidih.

“E-eh … ti-tidak masalah kok.” Krisna mencoba tersenyum seramah mungkin sambil menggaruk pipinya.

“Ya ampun! Dahimu? Dahimu berdarah!!!” gadis itu menjadi khawatir, seolah-olah ia tidak menghiraukan apa yang Krisna katakan tadi. Buru-buru ia lari ke dalam ruang kesehatan yang kebetulan ada tepat di samping ruang musik. Dalam hitungan detik, ia sudah kembali dengan sebuah saputangan, air dalam baskom kecil, perban, dan obat merah.

“Diam! Aku akan mengurus lukamu. Duduk sini!” gadis itu menggeret Krisna untuk duduk di kursi piano dalam ruang musik kemudian langsung mengurus lukanya. Krisna terdiam menurut. Tangan lembut sang gadis yang menyentuh pelipisnya begitu ia nikmati. Suasanya jadi hening. Hanya terdengar desiran angin yang mengangkut bunga-bunga layu dan helaan nafas tenang dari keduanya.

“Hoooooiii!!!!” sebuah suara gaduh membuat mereka terkejut. Hampir saja si gadis melemparkan baskom kecil berisi air yang tengah digenggamnya.

“Eh?” gadis yang tadi berteriak dengan suara gaduh nampak bingung. Berkali-kali ia menatap kemudian berpaling pada kaca jendela yang pecah, Krisna yang terluka pelipisnya, dan seorang gadis lain yang tengah berdiri bergeming di hadapan Krisna. Ia kemudian berjalan pelan dengan muka bersungut-sungut ke dalam ruang musik.

“Heeeh~? Gak nyangka kalau ternyata ada orang lain yang mampu pecahin kaca ini selain aku. Ha ha ha …” ujarnya sambil berjalan ke arah kaca jendela yang koyak dan tertawa garing.

Pletak!

Sebuah buku tebal berisi rentetan not balok, terbang menuju dahi Dinda.

“Diindaa!! Eluuuuu!!!” Krisna geram.

“Aw …” Dinda merintih kecil saat sudut buku yang dilempar Krisna mengenai pelipis kirinya. Sementara di pihak yang bersebrangan, Krisna masih menggeram.

“Lu apa-apaan sih?! Mau bikin gue gegar otak?” buku itu kemudian dilempar lagi menuju Krisna. Namun karena target meleset, buku itu malah mendarat di tulang pipi gadis yang berdiri di hadapan Krisna dan sukses membuat ia limbung dan terjatuh.
Tanpa komando, Krisna dan Dinda kompak menghampiri gadis itu.

“Oi? Lu gak papa?” Krisna mencoba membantu gadis itu bangkit. Syukurlah dia tidak pingsan.

“Gak papa kok. Tenang aja.” Gadis itu tersenyum sembari mencoba bangkit.

“Ma-maaf.” Dari arah punggung mereka, suara penyesalan terdengar.

“Ini semua gara-gara lu!” Krisna bangkit dan menyalahkannya.

“Lagian lu yang mulai sih!” bela Dinda.

“Elu tuh yah!”

“Eeeh … udah! Gak papa kok.” Gadis itu melerai dengan lembut.

“Hmh!” dengan sinis Dinda memalingkan muka kemudian melanjutkan kalimatnya, “btw, lu siapa? 
Kok bisa sih sampe jadi saingan Gue buat urusan mecahin kaca ruang musik?”

Krisna berang. “Woi! Itu tuh bukan sesuatu yang bisa lu banggain!”

Gadis itu tersenyum lembut.

“Gue …”


*to be continued

#Ruuni-sama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar